“Kalau makan itu biasakan di meja
makan, tidak bisa senaknya, ada aturannya sendiri.”
Ungkapan-ungkapan diatas sudah
biasa terjadi negara kita, mungkin agar terkesan berkepribadian, beretika atau
memiliki tata krama.
Table Manner merupakan aturan yang
harus dilakukan saat bersantap bersama di meja makan. Etika makan diperkenalkan
oleh bangsa Eropa yang merupakan aturan standar terutama saat bersantap
bersama-sama di sebuah acara resmi atau acara makan bersama di keluarga besar.
Meskipun sebenarnya Etika tersebut telah ada jauh sebelum peradaban Eropa
menyebar ke seluruh dunia.Untuk lebih jelasnya bisa di lihat di http://www.caramakan.com/2014/08/Tata-Cara-Makan-Table-Manner.html.
Beberapa orang dari kalangan
tertentu di negeri ini, akan merasa keren ketika sudah menguasai Table Manner.
Beberapa pelatihan baik itu gratis maupun berbayar, mereka ikuti. Seperti
halnya pada kalangan keluarga bangsawan, keluarga menengah ke atas, lingkungan
perkantoran ataupun instansi bahkan pemerintahan. Tata Cara Makan pun harus
mengikuti prosedur Table Manner, karena hal tersebut sudah merupakan standar
internasional. Di beberapa negara, seperti yang terdapat pada situs http://www.caramakan.com/2014/08/Tata-Cara-Makan-Table-Manner.html.
yaitu Amerika, Inggris, Cina, India, Korea, Jepang, Jerman memiliki aturan
tersendiri dalam hal Tata Cara Makan. Bagaimana dengan negara kita, Indonesia?
Apakah punya standar sendiri seperti negara lainnya?
Sejauh yang saya tahu, dan
kebanyakan kurang tahu atau kuper, alias ku’uleun dan kurung batokeun, pada dasarnya Table Manner di Indonesia sama halnya dengan negara luar
khususnya Eropa. Bahkan berbagai pelatihan Table Manner pun standar yang
digunakan adalah standar internasional.
Mungkin kita lupa, begitupun saya
bahwa di Negara kita khususnya Orang Sunda, Tata Cara Makan sudah diperkenalkan
sejak jaman Ema, Bapak, Karuhun kita.
Saya menyebutnya Samak Manner atau
lebih keren disebut Ngampar Samak. Bukan
di meja makan ataupun berdiri seperti yang terjadi saat ini apabila ada hajatan
di gedung-gedung, kebun atau lapangan. Orang Sunda ketika makan harus duduk,
baik itu beralaskan samak
(Tikar/alas duduk) ataupun bisa langsung duduk diatas papan, tanah, ataupun
tembok.
Tata cara makan pun harus
diperhatikan. Dari mulai sikap, etika sampai cara berpakaian. Pada jaman dalu
dan beberapa perkampungan yang sampai saat ini masih mengunakannya, bagi
perempuan wajib menggunakan kain samping dan bagi laki-laki menggunakan ikat
kepala. Begitupun dengan tata cara duduk, bagi perempuan harus ipet/emok dan bagi laki-laki harus sila. Etika
ketika makan pun tidak boleh ceplak
(bersuara), piring tidak boleh ditanggeuy
(disimpan di atas tangan), tidak boleh ngarongkong
(mengambil makanan melewati badan orang lain), tidak boleh teurab (bersendawa) dan banyak lagi yang lainnya.
Tidak hanya di daerah Sunda saja,
beberapa suku di Indonesia pun mempunyai cara makan yang beragam dengan
pemaknaan yang beragam pula. Bukan untuk kalangan bangsawan ataupun lingkungan
kelembagaan saja ketika makan ada tata caranya. Jauh sebelum Table Manner
digunakan sebagai standar cara makan yang baik dan benar di Negara kita, para
Karuhun, Tetua, Sesepuh dan Nenek Moyang kita sudah menerapkannya dan
mengajarkan anak cucunya untuk menggunakan tatakrama dalam hal menyantap
makanan. Sebagai contoh, Karuhun Orang Sunda mewariskan Ngampar Samak sebagai tata cara makan yang baik dan sopan.
Disaat berbagai daerah memiliki
kekayaan tata cara makan yang beragam, mengapa kita harus menerapkan tata cara
makan yang menjadi kebiasaan orang lain (tepatnya Negara orang)? Jawabannya
kembali lagi pada pilihan. Apa yang dilihat, dipelajari setiap individu menjadi
sebuah keharusan yang dibiasakan, pada akhirnya merupakan sebuah pilihan atas
kebutuhan dan kenyamanan masing-masing individu tersebut.
Bukan berarti saya anti pati
terhadap tata cara makan dengan standar internasional, sebagai keturunan Sunda
pun saya wajib untuk mempelajari dan mengaplikasikan kebiasaan yang diwariskan
oleh Karuhun dalam kehidupan keseharian. Sampai saat ini saya masih belajar dan
terus belajar.