Selasa, 24 Januari 2017

Table Manner jeung Ngampar Samak

“Kalau makan itu biasakan di meja makan, tidak bisa senaknya, ada aturannya sendiri.” 
“ Sebagai perempuan yang beretika, harus belajar Table Manner.


Ungkapan-ungkapan diatas sudah biasa terjadi negara kita, mungkin agar terkesan berkepribadian, beretika atau memiliki tata krama.

Table Manner merupakan aturan yang harus dilakukan saat bersantap bersama di meja makan. Etika makan diperkenalkan oleh bangsa Eropa yang merupakan aturan standar terutama saat bersantap bersama-sama di sebuah acara resmi atau acara makan bersama di keluarga besar. Meskipun sebenarnya Etika tersebut telah ada jauh sebelum peradaban Eropa menyebar ke seluruh dunia.Untuk lebih jelasnya bisa di lihat di http://www.caramakan.com/2014/08/Tata-Cara-Makan-Table-Manner.html.

Beberapa orang dari kalangan tertentu di negeri ini, akan merasa keren ketika sudah menguasai Table Manner. Beberapa pelatihan baik itu gratis maupun berbayar, mereka ikuti. Seperti halnya pada kalangan keluarga bangsawan, keluarga menengah ke atas, lingkungan perkantoran ataupun instansi bahkan pemerintahan. Tata Cara Makan pun harus mengikuti prosedur Table Manner, karena hal tersebut sudah merupakan standar internasional. Di beberapa negara, seperti yang terdapat pada situs http://www.caramakan.com/2014/08/Tata-Cara-Makan-Table-Manner.html. yaitu Amerika, Inggris, Cina, India, Korea, Jepang, Jerman memiliki aturan tersendiri dalam hal Tata Cara Makan. Bagaimana dengan negara kita, Indonesia? Apakah punya standar sendiri seperti negara lainnya?

Sejauh yang saya tahu, dan kebanyakan kurang tahu atau kuper, alias ku’uleun dan kurung batokeun, pada dasarnya Table Manner di Indonesia sama halnya dengan negara luar khususnya Eropa. Bahkan berbagai pelatihan Table Manner pun standar yang digunakan adalah standar internasional.

Mungkin kita lupa, begitupun saya bahwa di Negara kita khususnya Orang Sunda, Tata Cara Makan sudah diperkenalkan sejak jaman Ema, Bapak, Karuhun kita. Saya menyebutnya Samak Manner atau lebih keren disebut Ngampar Samak. Bukan di meja makan ataupun berdiri seperti yang terjadi saat ini apabila ada hajatan di gedung-gedung, kebun atau lapangan. Orang Sunda ketika makan harus duduk, baik itu beralaskan samak (Tikar/alas duduk) ataupun bisa langsung duduk diatas papan, tanah, ataupun tembok.

Tata cara makan pun harus diperhatikan. Dari mulai sikap, etika sampai cara berpakaian. Pada jaman dalu dan beberapa perkampungan yang sampai saat ini masih mengunakannya, bagi perempuan wajib menggunakan kain samping dan bagi laki-laki menggunakan ikat kepala. Begitupun dengan tata cara duduk, bagi perempuan harus ipet/emok dan bagi laki-laki harus sila. Etika ketika makan pun tidak boleh ceplak (bersuara), piring tidak boleh ditanggeuy (disimpan di atas tangan), tidak boleh ngarongkong (mengambil makanan melewati badan orang lain), tidak boleh teurab (bersendawa) dan banyak lagi yang lainnya.

Tidak hanya di daerah Sunda saja, beberapa suku di Indonesia pun mempunyai cara makan yang beragam dengan pemaknaan yang beragam pula. Bukan untuk kalangan bangsawan ataupun lingkungan kelembagaan saja ketika makan ada tata caranya. Jauh sebelum Table Manner digunakan sebagai standar cara makan yang baik dan benar di Negara kita, para Karuhun, Tetua, Sesepuh dan Nenek Moyang kita sudah menerapkannya dan mengajarkan anak cucunya untuk menggunakan tatakrama dalam hal menyantap makanan. Sebagai contoh, Karuhun Orang Sunda mewariskan Ngampar Samak sebagai tata cara makan yang baik dan sopan.

Disaat berbagai daerah memiliki kekayaan tata cara makan yang beragam, mengapa kita harus menerapkan tata cara makan yang menjadi kebiasaan orang lain (tepatnya Negara orang)? Jawabannya kembali lagi pada pilihan. Apa yang dilihat, dipelajari setiap individu menjadi sebuah keharusan yang dibiasakan, pada akhirnya merupakan sebuah pilihan atas kebutuhan dan kenyamanan masing-masing individu tersebut.

Bukan berarti saya anti pati terhadap tata cara makan dengan standar internasional, sebagai keturunan Sunda pun saya wajib untuk mempelajari dan mengaplikasikan kebiasaan yang diwariskan oleh Karuhun dalam kehidupan keseharian. Sampai saat ini saya masih belajar dan terus belajar.